Melawan Male Gaze: Bercermin pada Tokoh Perempuan Anime dalam Lensa Hayao Miyazaki

Menlisik suara dan tubuh perempuan dikonstruksi sedemikian rupa demi kenyamanan pasar budaya populer, apakah kita sedang menikmati sebuah karya seni, atau tanpa sadar sedang menormalisasi konsumsi yang menjamin otonomi perempuan?

 

Cantik, imut, dan seksi seolah menjadi syarat mutlak bagi karakter perempuan yang diproduksi secara masif dalam industri anime. Pembagian arketipe seperti Loli/Imouto (adik perempuan), Onee-san (kakak perempuan), figur submisif, hingga Tsundere tidak hanya mewujud dalam bentuk visual. Spektrum vokal para pengisi suara (seiyuu) pun ikut dikomodifikasi ke dalam cetakan yang spesifik: mulai dari gaya High-Pitched & Breathful (suara tinggi yang berdesah), Moe Vocal Style (nada manja yang cadel atau ragu-ragu), hingga Sutured Whispering (bisikan intim yang mendekati telinga pendengar).

Kombinasi visual dan auditori ini kerap dikritik karena kelindan kuatnya dengan berkumpulnya laki-laki—sudut pandang yang mereduksi perempuan menjadi sekedar objek pemuas fantasi penonton laki-laki. Akibatnya, industri ini terus melanggengkan objektifikasi akut, standarisasi proporsi tubuh yang tidak realistis, hingga eksploitasi karakter di bawah umur (lolicon). Ketika batas antara hiburan dan tujuan menjadi begitu kabur, kita dipaksa untuk berkaca: sejauh mana fantasi yang kita konsumsi sehari-hari telah menumpulkan rasa empati kita terhadap kenyataan perempuan di dunia nyata?

Lingkaran Setan dan Dampak Sosialnya

Langgengnya fenomena male gaze yang dibungkus fanservice dalam industri anime-manga tidak dapat dipisahkan dari logika ekonomi pasar bebas, yakni hukum penawaran dan permintaan. Kelompok konsumen otaku laki-laki merupakan penggerak finansial terbesar yang menghabiskan puluhan ribu Yen per tahun untuk membeli komoditas berbasis karakter¹. Kapitalisasi hasrat visual ini ditangkap oleh studio produksi sebagai peluang pasar yang sangat menguntungkan. Akibatnya, terjadi lingkaran setan dalam ekosistem industri: agensi produksi secara masif memasok konten-konten yang memuat tujuanikasi tubuh perempuan guna memenuhi dan memenuhi permintaan dari dasar pasar tersebut. Ironisnya, karena formula komersial ini selalu berhasil mendatangkan keuntungan, standar visual yang mengeksploitasi perempuan akhirnya dianggap sebagai "keharusan baku" dalam proses produksi anime arus utama.

Kondisi pasar ini berdampak serius pada pelestarian fungsi ruang publik bagi remaja. Kategori Shonen (anime/manga yang ditujukan untuk remaja laki-laki) yang seharusnya menjadi ruang eksplorasi moral, malah menjadi media informal pertama untuk mengenal seksualitas. Ketika representasi perempuan dalam budaya populer direduksi menjadi sekadar pelengkap erotis, pembaca laki-laki tidak lagi diajak untuk memahami kedalaman karakter, emosi, atau kualitas intelektual seorang perempuan. Pengenalan seksualitas yang datang dari ruang artifisial ini bersifat sangat timpang, sebab tubuh perempuan dikonstruksi secara visual hanya untuk memenuhi kepuasan atau fantasi penonton laki-laki, alih-alih ditampilkan sebagai manusia utuh dengan otoritas penuh atas dirinya sendiri.

Chizuko Ueno, seorang sosiolog sekaligus pendiri Women's Action Network (WAN) mengungkap bagaimana kebencian terhadap perempuan merupakan asimetri struktural yang sistematis dalam masyarakat patriarki. Dalam bukunya yang berjudul Misogyny in Japan, Ueno menjelaskan bahwa misogini bekerja dua arah: bagi pria, hal ini mewujud sebagai pelanggaran terhadap perempuan demi mendapatkan pengakuan dalam lingkaran solidaritas sesama pria (homososial); sementara bagi perempuan, hal ini terinternalisasi menjadi kebencian pada identitas diri sendiri atau sesama gendernya². Melalui pisau analisis sosiologis dan psikoanalisis, Ueno menunjukkan bagaimana struktur ini terus dilestarikan melalui berbagai institusi sosial, mulai dari sistem keluarga, budaya kerja korporat, produk hukum, dan budaya pop.

Secara khusus, Ueno menonjolkan subkultur pop otaku sebagai wujud ekstrem dari pengungsi pria dari realitas sosial dan kompetisi maskulinitas tradisional yang ketat. Dalam analisis budayanya, konsumsi karakter dua dimensi (2D) dinilai sebagai bentuk persetujuan untuk berinteraksi dengan perempuan nyata yang memiliki agensi atau kemauan bebas. Dengan mengonsumsi komoditas fiksi yang sepenuhnya patuh dan dapat dikontrol, para konsumen dapat menikmati seksualitas “nir-sentuh” ​​yang steril dari risiko persetujuan, kritik, atau tuntutan antarpribadi yang biasanya terjadi dalam hubungan antarmanusia di dunia nyata. Industri budaya pop ini secara masif mengkapitalisasi rasa tidak aman pria dengan dalih menyediakan "fantasi fiksi yang tidak berbahaya." Padahal, normalisasi objektifikasi tubuh perempuan dalam dunia 2D tersebut justru memperkuat cara pandang misoginis di dunia nyata, yang jarak keintiman emosional yang sehat antara pria dan perempuan. 

Distorsi visual ini dihapus dari cara medium fiksi tersebut beroperasi: dimulai dari manga yang merekam objektivifikasi dalam panel-panel statistik berwujud gambar diam, yang kemudian diamplifikasi secara masif ketika diadopsi ke dalam anime. Dalam format animasi, industri menyajikan dinamika gerak yang dinamis, manipulasi sudut kamera, serta efek visual maupun audio yang dramatis untuk mengeksploitasi tubuh karakter perempuan secara lebih hidup.

Konsumsi yang konstan terhadap kombinasi gambar statistik dan stimulasi gerak bernada seksi sejak usia dini ini membawa kekuatan psikologis yang berbahaya terhadap bagaimana laki-laki memandang konsep persetujuan (persetujuan) dan hak otonomi tubuh perempuan. Karena ketika sebuah media terus-menerus menormalisasi adegan di mana tubuh karakter perempuan dapat dieksploitasi, disentuh, atau diolah tanpa adanya konteks logis—sering kali dibungkus dengan pembenaran komedi atau kepasrahan karakter—penonton dikondisikan untuk mengadopsi bias gender tersebut ke dunia nyata. Hal ini membuat persepsi batasan moral interpersonal menjadi kabur. Akibatnya, muncul pemikiran bawah sadar yang menganggap bahwa tubuh perempuan di dunia nyata adalah objek yang dapat diakses secara sepihak, mengikis sensitivitas laki-laki terhadap pentingnya menghormati otoritas fisik orang lain.

Jadi, meskipun konsumsi konten ecchi dan fanservice yanh vulgar tidak serta-merta mengubah seseorang menjadi kejahatan seksual dalam semalam, paparan media tersebut secara konstan terbukti berkontribusi terhadap desensitisasi emosional dan normalisasi pencahayaan. Korelasi ini terlihat nyata dalam berbagai studi psikologi forensik lokal terhadap pelaku chikan (pelecehan di kereta api) yang tertangkap di Tokyo; yang mana pelaku terbukti memiliki persepsi yang terdistorsi mengenai perempuan akibat konsumsi media visual yang sering mengonstruksi tindakan mengingat visual sebagai hal komis, maklum, atau bahkan dinikmati oleh korbannya. Distorsi naratif dan pemosisian tubuh perempuan dalam male gaze fiksi inilah yang pada akhirnya mengondisikan pola pikir bawah sadar pelaku di dunia nyata, mengikis rasa empati mereka, serta menumbuhkan asumsi keliru bahwa perempuan di kehidupan nyata tidak akan atau melawan saat otoritas tubuhnya selesai³.

Karya Hayao Miyazaki sebagai Antitesis

Di tengah arus utama yang menggila ini, Hayao Miyazaki bersama Studio Ghibli hadir sebagai antitesis yang kokoh, konsisten menampilkan karakter perempuan yang utuh, manusiawi, dan sepenuhnya bersih dari motif seksualisasi. Miyazaki secara sadar menolak formula industri yang menjual daya tarik seksi demi keuntungan komersial. Karakter perempuan ciptaannya bukanlah pemanis layar atau pemuas fantasi penonton. Dalam setiap karyanya, penonton tidak akan menemukan sudut kamera yang mengeksploitasi tubuh, pakaian yang sengaja dibuat minim, atau aksi canggung berpola seksual (fanservice). Desain karakter perempuan Miyazaki—mulai dari anak-anak seperti Mei dan Satsuki hingga remaja seperti Nausicaä dan San—selalu menggunakan pakaian yang fungsional, realistis, dan sesuai dengan tuntutan narasi serta perkembangan zaman dalam cerita tersebut.

Ketika industri anime sering terjebak dalam fetisisme terhadap karakter anak-anak atau remaja perempuan (loli/lolicon), Miyazaki justru mendobraknya dengan menghadirkan kemurnian masa kanak-kanak yang apa adanya dan mendekati kenyataan. Tokoh seperti Chihiro dalam Spirited Away dan Anna dalam When Marnie Was There digambarkan sebagai anak perempuan biasa yang canggung karena harus pindah sekolah. Melalui tokoh-tokoh ini, Miyazaki menunjukkan bahwa yang menarik dari tokoh anak-anak terletak pada pertumbuhan emosional, bagaimana lingkungan sekitarnya mendukung mimpi, ketahanan mental, dan ketulusan hati mereka saat menghadapi krisis; bukan pada komodifikasi visual yang merusak kepolosan mereka. 

Pendekatan non-seksualitas ini juga memberikan ruang bagi karakter perempuan Miyazaki untuk memiliki agensi penuh atas diri mereka sendiri. Mereka adalah penggerak utama plot, bukan piala yang harus diselamatkan oleh protagonis pria. Nausicaä dalam Nausicaä of the Valley of the Wind, misalnya, adalah seorang pemimpin, ilmuwan, dan pejuang ulung. Kehebatannya tidak ditentukan oleh hubungan romantis atau validasi dari pria, justru karena empati yang mendalam terhadap alam dan tanggung jawab besar terhadap keselamatan rakyatnya.

Lalu ketika berbicara aspek visual dalam animasi Miyazaki, secara konsistensi menggunakan bahasa tubuh yang ekspresif dan natural untuk menyampaikan emosi, bukan untuk memicu gairah penonton visual. San dalam Princess Mononoke dijelaskan dengan wajah berlumuran darah serigala, ekspresi yang garang, dan gerakan tubuh yang pembohong serta tangkas. Miyazaki menampilkan aksi heroik tokoh San melalui jiwa yang merdeka dan keberaniannya yang mentah. Di sini, standar kecantikan konvensional yang sering mendikte industri anime sepenuhnya runtuh dan dipertahankan oleh estetika humanisme yang mendalam.

Lebih jauh lagi, penolakan Miyazaki terhadap male gaze juga terlihat dari bagaimana dirinya menggambarkan karakter perempuan paruh baya dan usia lanjut. Dalam anime arus utama, perempuan yang menua sering kali diabaikan atau dijadikan bahan lelucon atau imaji “Seksi”. Namun, Miyazaki menciptakan karakter seperti Koki dalam Laputa: Castle in the Sky atau para nenek dalam anime Ponyo sebagai sosok yang eksentrik, berwibawa, bijaksana, sekaligus memiliki peran krusial dalam cerita. Di sini, tokoh perempuan lanjut usia dihormati atas pengalaman hidup dan ketangguhan mereka, bukan karena sisa-sisa kemudaan mereka.

Akhir kata, budaya populer saat ini sangat membutuhkan lebih banyak gambaran tokoh perempuan yang esensial dan berani menolak persetujuan atas eksploitasi selera pasar, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Hayao Miyazaki. Melampaui batas sekadar hiburan, karya-karya yang menciptakan tokoh perempuan dengan martabat dan agensi penuh—tanpa harus direduksi menjadi sekadar "waifu material"—mampu menghadirkan ruang aman bagi penonton perempuan untuk melihat refleksi diri mereka yang dihargai secara utuh sebagai manusia. Realitas ini juga memunculkan kejenuhan sosial dari konten media sosial dan para cosplayer yang menghidupkan tokoh perempuan di dunia nyata sering kali ikut terbebani karena tuntutan untuk memenuhi standar seksi yang tidak realistis.

Dengan semakin banyaknya sineas dan mangaka yang menolak objektifikasi dan male gaze, maka tidak hanya karakter-karakternya yang terselamatkan dari reduksi moral, namun ikut menaikkan derajat medium anime itu sendiri menjadi sebuah karya seni yang matang, inklusif, dan sesuai umur. Warisan terbesar Miyazaki baik menjadi sebuah standar baru dalam seni bercerita, bahwa kekuatan sejati seorang perempuan di layar kaca terletak pada martabat tokoh dan kedalaman cerita, bukan pada lekuk tubuhnya.

 

Sumber:

¹ Lembaga Penelitian Yano. (2023). 'Otaku' Shijō ni Kansuru Chōsa o Jishi. Institut Penelitian Yano Ltd. 

² Ueno, C. (2018). Misogini di Jepang. (T.Yoshio, Terjemahan). Pers Jembatan Batu. (Judul asli: Onnagirai: Nippon no Josei Ken'o, pertama kali terbit tahun 2010).

³ Saito, T. (2012). Chikan no Seishinkanri: Yuganda Sei-gensho o Yomitoku/ Psikologi Penganiayaan: Menguraikan Fenomena Seksual yang Terdistorsi. Shueisha. 

0 comments

Leave a Comment