Olahraga kerap diagungkan sebagai ruang sportivitas, kesehatan fisik, dan pemersatu bangsa. Namun, tersimpan sisi kelam yang kerap luput dari perayaan arus utama: manifestasi agresi yang bertumpu pada konstruksi maskulinitas toksik.
Arena olahraga, khususnya yang melibatkan kontak fisik dan rivalitas tinggi seperti sepak bola, sering menjadi ruang yang merawat ekspresi dominasi laki-laki. Di dalam lapangan, agresi fisik, benturan tubuh, hingga dorongan untuk menembakkan lawan kerap dirayakan sebagai bentuk keberanian dan "kejantanan". Masalahnya, atmosfer provokatif ini tidak terisolasi di atas rumput hijau. Ketika ketegangan pertandingan meningkat, adrenalin dan luapan emosi agresif tersebut yang tertahan di stadion kemudian dibawa pulang ke rumah dan dilampiaskan melalui bentakan, ancaman, hingga tindakan fisik, menempatkan perempuan serta kelompok rentan lainnya sebagai sasaran empuk pelampiasan ego yang terluka.
Fenomena mengerikan demikian nyata terjadi dalam perhelatan akbar seperti Piala Dunia FIFA 2026 yang tengah berlangsung. Laporan penelitian dan kampanye keselamatan publik di Inggris kembali menampilkan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) setiap kali pertandingan nasional digelar. Mengacu pada data sosiologis kriminolog Dr. Stuart Kirby dari Lancaster University, angka laporan KDRT melonjak tajam hingga 38% saat tim nasional Inggris mengalami kehancuran. Bahkan, ketika timnas menang atau seri sekalipun, angka kekerasan tetap melaju naik sebesar 26%, membuktikan bahwa euforia maupun mengecewakan olahraga sama-sama memicu agresi laki-laki pasangan terhadapnya di rumah.
Agresi akibat budaya olahraga ini tidak hanya terjadi di belahan bumi barat, namun mengingatkan kembali tragedi yang terjadi di Indonesia. Kita sering menyaksikan bagaimana fanatisme dalam sepak bola tanah air berujung pada membungkus dan kericuhan masal yang memakan jiwa korban. seperti Tragedi Kanjuruhan yang diperparah dengan kelalaian SOP penyelamatan, maupun bentrokan antar suporter di berbagai daerah. Di tengah atmosfer kekacauan publik tersebut, perempuan dan warga sipil di sekitar wilayah konflik sering menjadi sasaran agresi hingga mengalami seksual terbuka (merujuk ke kasus mengungkapkan suporter kepada jurnalis perempuan di Solo tahun 2022).
Olahraga Memvalidasi Kekerasan Gender?
Untuk membahas hal ini, mengingatkan kembali pada konsepisasi Maskulinitas Hegemonik oleh Sosiolog Raewyn Connell, bahwa dalam struktur patriarki, terdapat satu bentuk maskulinitas ideal yang dilegitimasi secara sosial, yang menuntut laki-laki untuk selalu dominan, agresif, kuat secara fisik, dan anti-feminin. Meneruskan pemikiran Connell, sosiolog olahraga Michael Messner juga menjelaskan bahwa institusi olahraga modern sengaja dikonstruksi sebagai ritus peralihan (rite of peralihan) bagi laki-laki. Di dalamnya, terdapat status quo yang menuntut laki-laki membuktikan kejantanan mereka melalui dedikasi total, keberanian, dan penekanan rasa takut. Tuntutan ini pada akhirnya menormalisasi kekerasan, baik bagi atlet di lapangan maupun suporter di tribun.
Bagi para atlet, tubuh mereka dilatih secara sistematis untuk menaklukkan lawan demi mempertahankan status superior. Keberanian menahan sakit dan mengabaikan cedera dianggap sebagai lencana kehormatan. Namun, ketika kompetisi gagal memberikan kemenangan, atlet berisiko mengalami krisis identitas gender karena merasa gagal memenuhi standar maskulinitas hegemonik. Untuk merebut kembali ilusi kekuasaan dan kontrol yang hilang, sebagian dari mereka melakukan agresi kompensatoris—yang sering kali terwujud dalam bentuk kekerasan di lapangan.
Sedangkan di sisi supporter/penonton, maskulinitas dikonstruksi melalui psikologi psikologis yang mendalam dengan tim kesayangan mereka. Mengacu pada sosiolog Eric Dunning lewat kerangka sosiologis figurasional, olahraga berfungsi sebagai ruang terkendali de-pengendalian atas emosi manusia—di mana stadion menjelma menjadi arena ketika luapan agresi yang biasanya dilarang dalam kehidupan sehari-hari justru dan dirayakan. Dinamika ini memicu terbentuknya ego kolektif yang rapuh, di mana para suporter menggantungkan harga diri maskulin mereka pada hasil akhir pertandingan. Ketika tim kesayangannya kalah, alih-alih menerima kekecewaan sebagai kekalahan sportivitas, malah ditafsir sebagai ancaman langsung terhadap identitas maskulin kolektif mereka.
Kondisi ini sering kali berujung pada apa yang disebut sebagai badai sempurna kekerasan. Ketika batas pelepasan emosi kabur—diperparah oleh konformitas kelompok atau tribalisme, konsumsi alkohol, serta ketiadaan ruang pelampiasan emosional yang sehat—agresi tersebut meluap menjadi keharusan publik di luar stadion. Pada akhirnya, kombinasi antara budaya olahraga yang patriarkis dan egosentrisme maskulin yang rapuh, baik pada diri atlet maupun suporter, menciptakan dampak sistemis yang berbahaya: menempatkan kelompok yang dianggap lebih lemah, seperti perempuan, sebagai objek inferior yang sering dijadikan sasaran pelampiasan kekerasan demi memulihkan ilusi kekuasaan dan identitas maskulin yang terkoyak.
Transformasi Kultur dan Ruang Aman yang Perlu Dibangun
Melihat betapa agresi berbasis gender dalam ekosistem olahraga, mendesak kita untuk mulai mendekonstruksi narasi bahwa kekerasan adalah bagian yang "wajarnya ada" dari fanatisme sepak bola. Pembongkaran kultur ini harus dimulai dari pengakuan bersama bahwa olahraga tidak pernah netral gender; Karena hidup dalam struktur patriarki yang sering kali menoleransi ancaman bagi perempuan dan kelompok marginal. Di Inggris sendiri, terdapat kampanye publik bertajuk "Jika Inggris dikalahkan, dia juga" (Jika Inggris dikalahkan, perempuan juga akan dipukuli) yang diusung oleh lembaga seperti National Centre for Domestic Violence (NCDV), serta peringatan kepolisian dan kejaksaan Inggris. Hubungan kausalitas ini menampilkan bagaimana kekalahan dalam olahraga dianggap sebagai ancaman langsung terhadap harga diri maskulin para pendukung, akibat minimalnya kontrol ego dan dominasi kekuasaan yang ditegakkan kembali di ruang privat melalui kekerasan fisik dan verbal. Perlu ada kesadaran untuk rantai kekerasan, mulai dari belajar menerima kekalahan, menolak cemoohan misoginis, hingga menolak ledakan kemarahan di ruang publik serta domestik seusai pertandingan; agar perempuan dan kelompok rentan tidak harus membayar harga mahal atas runtuhnya ekspektasi maskulin tersebut.
Membirakan tanggung jawab tidak hanya kepada suporter/penonton, namun juga tanggung jawab institusional dari klub, federasi sepak bola, hingga aparat penegak hukum. Selama ini, kekerasan setelah pertandingan kerap dianggap sekadar "emosi suporter yang tak tertampung" atau akses dari alkohol belaka, padahal data menunjukkan bahwa alkohol dan Match Days hanyalah pemicu dari pola kontrol emosi dan dominasi yang sudah ada sebelumnya. Pihak penyelenggara dan penegak hukum harus menerapkan protokol perlindungan gender yang nyata, baik di dalam stadion maupun melalui layanan intervensi dini berbasis komunitas bagi korban KDRT saat turnamen besar berlangsung.
Selain di level regulasi, edukasi mengenai maskulinitas yang sehat juga patut ditanamkan sejak dini dalam pendidikan olahraga. Laki-laki perlu diajarkan bahwa mengepresikan kekecewaan akibat kekalahan tim kesayangan tidak harus diwujudkan melalui dominasi fisik atau verbal. Sportivitas sejati harus dimaknai sebagai kemampuan mengelola kekalahan tanpa harus mengorbankan keselamatan orang lain, terutama perempuan dan anak-anak yang rentan di lingkungan sekitar mereka.
Oleh karena itu, mewujudkan kembali lapangan hijau sebagai ruang yang inklusif dan ramah bagi semua gender adalah kerja kolektif. Olahraga harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai perayaan sportivitas, kemanusiaan, solidaritas, dan kegembiraan; bukan tempat menyemai benih-benih emosi negatif . Hanya dengan memutus ikatan antara maskulinitas toksik, agresi, dan kekuasaan, kita dapat memastikan bahwa tidak ada lagi perempuan yang harus menjadi korban saat peluit pertandingan dibunyikan.
Sumber:
Connell, RW (1995). Maskulinitas. Berkeley: University of California Press.
Dunning, E. (1999). Sport Matters: Studi Sosiologis tentang Olahraga, Kekerasan, dan Peradaban. London: Routledge.
Kirby, S., Francis, B., & O'Flaherty, R. (2014). "Jika sepak bola dibawa pulang, akankah dia aman di rumah? Piala Dunia, kekerasan dalam rumah tangga dan efek waktu tambahan". Jurnal Penelitian Kejahatan dan Kenakalan, 51(5), 682-708.
Messner, MA (1990). "Masa Kecil, Olahraga Terorganisir, dan Konstruksi Maskulinitas". Jurnal Etnografi Kontemporer, 18(4), 416-444.
0 comments