Kemewahan dan suami sukses ternyata tidak cukup untuk menutup rapat yang berisi kebebasan seorang perempuan. Sebaliknya, justru memberi dorongan psikologis tak biasa yang membawa seorang Istri menelan benda-benda berbahaya.
Ruang tamu yang terlalu bersih, warna-warna pastel yang rapi, dan rumah kaca mewah yang terlindungi di tepi sungai. Bagi Hunter (dibintangi secara memukau oleh Haley Bennett), kehidupan sebagai istri dari Conrad—seorang eksekutif muda kaya raya—tampak seperti impian borjuis yang sempurna. Namun kenyataannya, Hunter tidak lebih dari sekedar perhiasan tubuh. Kehidupannya dikurung oleh ekspektasi gender tradisional yang menuntutnya untuk tampil manis, patuh, dan responsif terhadap seluruh kebutuhan suami.
Keadaan berubah saat Hunter dinyatakan hamil. Alih-alih melahirkan keturunan, kehamilan tersebut justru mempertegas pengawasan ketat dari keluarga suami. Tubuh Hunter bukan lagi miliknya; tubuh itu telah menjadi milik dinasti keluarga Conrad yang harus dijaga demi keberlangsungan garis keturunan mereka. Dalam himpitan kecemasan dan hilangnya otonomi atas tubuhnya sendiri, Hunter mulai mengembangkan perilaku tak biasa: pica, gangguan psikologis yang mendorong seseorang untuk menelan benda-benda non-makanan. Dimulai dari gundu kaca yang licin, ia melangkah ke benda yang semakin berbahaya: pin dorong, baterai, hingga jarum pentul.
Pica sebagai Bentuk Perlawanan Tubuh
Pencarian otonomi tubuh bagi Hunter terasa jauh lebih kelam ketika ditarik dari sejarah kelahirannya. Hunter lahir dari peristiwa kekerasan—ia adalah anak dari seorang ayah yang menyebarkan kekuasaan dan dominasinya dengan cara merampas otonomi tubuh orang lain melalui tipu muslihat. Sementara itu, Hunter yang tumbuh dalam bayang-bayang trauma eksistensial tersebut mengekspresikan usahanya untuk bertahan hidup dengan cara yang berkebalikan: ia berjuang keras untuk mengontrol tubuhnya sendiri.
Ketika seorang perempuan dicabut seluruh kendali atas jalan hidupnya—pakaian apa yang harus ia kenakan, bagaimana ia harus menata rambutnya, hingga apa yang boleh ia katakan di meja makan—tubuhlah yang menjadi benteng pertahanan terakhir. Bagi Hunter, tindakan menelan kelereng atau jarum adalah satu-satunya momen di mana dirinya memegang kendali penuh atas keputusannya sendiri. Berbeda dari aksi ayahnya yang memaksakan kehendak pada tubuh orang lain, Hunter hanya ingin berkuasa atas tubuh yang ia tempati. Ia memilih sendiri apa yang masuk ke dalam tubuhnya, sebuah wilayah rahasia yang tidak bisa dididik oleh suami, mertua, maupun jejak trauma masa lalunya.
Rasa sakit fisik yang dirasakan Hunter saat menelan benda tajam terasa memerdekakannya, karena rasa sakit itu adalah miliknya sendiri—bukan rasa sakit akibat paksaan penyesuaian diri terhadap standar orang lain, serta perasaan diabaikan (neglected) dan keterasingan. Pica di sini bertransformasi dari sekadar simtom medis menjadi manifestasi dari agensi yang terdistorsi. Saat tubuhnya dikomodifikasi sebagai wadah untuk melahirkan penerus bisnis keluarga, Hunter merebut kembali dengan cara yang paling ekstrem, demi menjaga nalar bahwa ia bukanlah objek pasif yang bisa diatur tanpa perlawanan.
Sutradara Carlo Mirabella-Davis mengemas Swallow (2019) bukan sekadar film thriller psikologis atau body horror yang memancing mual. Lebih jauh dari itu, film ini adalah narasi perlawanan yang diam-diam namun mematikan terhadap sistemik di dalam ruang domestik.
Rahimku Bukan Milikmu
Film ini secara tajam mengkritik bagaimana institusi pernikahan patriarkal kerap menempatkan perempuan dalam jerat domestikasi yang memperhalus kekerasan. Posisi Hunter sebagai ibu rumah tangga dan istri di rumah mewah tersebut sejatinya sangat marjinal; Keberadaannya tak pernah benar-benar membuat frustrasi selain sebagai pelengkap status sosial suami, Conrad. Ia mengabaikan dalam percakapan penting, suaranya sering dipotong, dan kehadirannya hanya dianggap ada jika ia diurutkan. Bahkan demi membahagiakan suami dan memenuhi ekspektasi peran istri yang ideal, Hunter memilih untuk mengubur keraguannya memiliki anak tersebut dan mencoba menjalani kehamilan.
Bentuk hidup yang dialami Hunter tidak hadir dalam wujud fisik secara langsung. Conrad dan orang tuanya tidak pernah memukul Hunter. Sebaliknya, mereka menggunakan "kebaikan", fasilitas mewah, dan menampilkan sikap merendahkan yang mengikis rasa percaya diri Hunter secara perlahan. Kekerasan yang dialami Hunter adalah kekerasan simbolik yang terstruktur, di mana kehendak dan identitas dirinya secara halus dihapus demi kenyamanan pria dan nama besar keluarga. Tubuhnya tiba-tiba disita menjadi properti publik keluarga—setiap asupan makanan, emosi, hingga aktivitas hariannya membatasi rahim seolah-olah bukan lagi milik tubuhnya sendiri.
Mengapa Swallow Layak Diapresiasi
Secara visual, Swallow menyajikan kontras yang mempesona sekaligus mengerikan. Carlo Mirabella-Davis membingkai ruang-ruang domestik dengan estetika yang sangat simetris, rapi, dan dinamis dalam spektrum warna pastel, mirip dengan katalog majalah interior mewah. Namun, di balik kerapian dan keindahan visual tersebut, lanskap rumah tinggal Hunter justru terasa steril, dingin, dan sesak—layaknya penjara kaca yang megah.
Menariknya, pilihan tema dan atmosfer pengekangan ini dihilangkan dengan kuat pada fakta ekstrinsik personal sang sutradara. Mirabella-Davis mendedikasikan film ini untuk kenangan sang nenek, seorang ibu rumah tangga di era 1950-an yang mengidap gangguan obsesif-kompulsif (OCD) akibat pernikahan yang mengontrol. Oleh keluarganya saat itu, perilaku ritualistik sang nenek dianggap merusak tatanan dan norma sosial, hingga ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan menjalani terapi elektrokonvulsif. Pengalaman nyata tentang bagaimana tubuh dan kesehatan mental perempuan didisiplinkan secara paksa demi norma patriarki inilah yang memantik lahirnya narasi Swallow.
Subversi naratif Mirabella-Davis semakin menarik ketika keluarga Conrad menyewa Luay (diperankan Laith Nakli)—seorang pria Muslim keturunan Suriah—untuk mengawasi setiap gerak-gerik Hunter di rumah. Melalui karakter Luay, sutradara seperti menyisipkan pesan melawan Islamofobia yang kerap melekat dalam sinema Barat. Alih-alih menampilkan sosok pria Timur Tengah yang intimidatif, Luay hadir sebagai sosok yang memiliki rasa empati paling dalam terhadap situasi Hunter. Keputusan menyajikan Luay dalam ruang perawatan ini sekaligus mendobrak stigma gender bahwa jasa pengurus dan pengasuh domestik selalu memandang perempuan.
Pendekatan artistik dan kedalaman isu ini mendapatkan apresiasi luar biasa di panggung sinema internasional. Sejak tayang perdana di Tribeca Film Festival 2019, film ini meraih respon kritis yang sangat positif dengan mengantongi skor Rotten Tomatoes di atas 87%. Haley Bennett sebagai tokoh utama bahkan memenangkan penghargaan Aktris Terbaik di Festival Film Tribeca atas penampilan yang luar biasa.
Saya turut terkesan bagaimana film bertemakan objektifikasi tubuh perempuan dan kontrol domestik yang diangkat adalah persoalan yang melonjak secara universal melebihi batas geografi, kelas sosial, dan budaya. Film ini menjadi pengingat penting bahwa rahim perempuan dan keputusan reproduksi adalah sepenuhnya hak milik perempuan itu sendiri. Selama rahim dan tubuh perempuan masih dianggap sebagai milik keluarga atau masyarakat, maka perlawanan—dalam bentuknya yang paling ekstrem dan menyakitkan sekalipun—akan terus lahir dari ruang-ruang yang kita baikan.
0 comments