Sejak gelombang Korea masuk ke Indonesia tahun 2000-an, popularitas K-Pop khususnya girlgroup seperti Girls’ Generation, Wonder Girls, 2NE1 dan After School meningkat tajam. Wajah mereka pun mulai wara-wiri menghiasi layar kaca dan layar perak nasional.
Seiring dengan itu, semakin berkembanglah standar kecantikan ala Korea di masyarakat Indonesia seperti kulit putih, glowing, cerah, mulus tanpa bekas luka atau tato yang ‘tampaknya’ harus diikuti para perempuan demi menjaga stabilitas karir, image diri, hubungan, sekaligus memanjakan mata. Termasuk sampai yang paling absurd tapi nyata sekalipun, ‘women armpit hairless’.
Awal Mula ‘Women Armpit Hairless’
Ditelaah lebih dalam, sebenarnya fenomena women armpit hairless bukan hanya baru-baru setelah budaya korea merebak di Indonesia melainkan sejak dulu selalu ditanamkan melalui industri media seperti iklan Gillette Safety Razor Company di tahun 1915 yang memperkenalkan produk teranyarnya, Milady Décolletée, pisau cukur khusus wanita pertama dengan narasi ‘wujudkan ketiak halus impianmu, aman dan higienis’. Lalu dilengkapi gambaran wanita berbusana tanpa lengan atau lengan menerawang memperlihatkan ketiaknya yang bebas bulu sebagai panutan.
Bulu yang tumbuh di ketiak bagi perempuan dianggap ‘jelek’, ‘tidak diinginkan’, ‘tidak sepantasnya’ dan ‘tidak modis’ yang lantas membuat kepercayaan diri bahkan daya pikat seksual mereka menurun drastis. Hal serupa terus bermunculan dengan hadirnya iklan aneka varian deodoran Odorono, Sanex, Viva dan Rexona sejak tahun 1973 hingga 2016 baik di televisi, sinetron maupun film.
Di era digital yang semakin canggih, media sosial turut memproduksi konten dengan narasi yang seolah baru, padahal sesungguhnya masih mengulang pola lama hanya saja kini dibungkus dengan format yang lebih kekinian. Lihat saja sejumlah reels Instagram Mosseru Official beberapa bulan lalu bertajuk “Weekly Meeting Salfok Ketek Atasan”, “Seragam Ngetek Wajib Karyawan SCBD”, atau video TikTok Shop Milk Recipe. Mirisnya, deretan beauty dan fashion influencer pun ikut terlibat dalam mengglorifikasi narasi ini, termasuk salah satunya Michelle Pan.
Akibatnya, berbagai jenis perawatan penghilang bulu mulai dari candle, sugar, hingga laser kian menjamur, bukan hanya di kota-kota besar tetapi juga merambah hingga tingkat kabupaten. Pelanggannya pun beragam: pra remaja, remaja, hingga perempuan dewasa. Banyak penyedia jasa bahkan menawarkan special treatment dan diskon besar-besaran demi menarik lebih banyak konsumen. Fenomena ini menunjukkan bahwa stimulus berulang dari iklan dan konten digital berhasil menancap kuat di benak masyarakat, membentuk tren sekaligus norma tidak tertulis: bahwa perempuan “sebaiknya” tidak memiliki bulu tubuh jika tak ingin dipermalukan atau menjadi bahan gunjingan.
Fenomena fetishisasi ketiak idol K-Pop kian mengemuka di media sosial. Salah satu contohnya terlihat pada akun @kpop_armpit yang sejak Mei 2023 rutin membagikan ratusan foto dan video slow motion ketiak para idol baik dari grup maupun solois saat tampil di panggung, berinteraksi dengan penggemar, hingga sesi pemotretan.
Akun serupa seperti @kpop.armpit.nation bahkan memiliki hampir dua kali lipat jumlah pengikut. Kolom komentarnya dipenuhi pujian terhadap ketiak mulus para idol, lengkap dengan ungkapan yang menjadikannya sebagai “armpit goals.” Namun di balik puja-puji tersebut, terselip standar kecantikan yang berlebihan dan problematis. Fetishisasi ini tidak hanya memuja, tetapi juga melahirkan budaya mengawasi dan mengkritik tubuh idol secara detail.
Standar Ganda: Bulu Ketiak pada Perempuan
Keberadaan bulu ketiak pada perempuan justru dianggap kotor, tidak pantas, dan memalukan. Sebaliknya, bulu ketiak pada laki-laki kerap dimaknai sebagai simbol kejantanan, kedewasaan, bahkan maskulinitas. Satu bagian tubuh yang sama, tetapi diberi makna sosial yang sepenuhnya berbeda hanya karena jenis kelamin.
Contoh paling kasat mata terlihat di konser K-Pop. Para dancer laki-laki sering menampilkan koreografi dengan lengan terangkat, memperlihatkan ketiak mereka di layar besar tanpa sensasi apa pun. Namun, Ketika seorang idol perempuan terlihat memiliki chicken skin atau bintik kehitaman di area ketiak, respons publik pun berubah menjadi penghakiman. Hal ini pernah dialami Rosé Blackpink yang mendapat komentar negatif hanya karena ketiaknya tidak semulus citra yang selama ini dikonstruksikan. Padahal, kondisi kulit dengan benjolan kecil seperti kulit ayam—dikenal sebagai Keratosis Pilaris (KP)—merupakan kondisi kulit yang normal (Nukana, 2019).
Fenomena ini tidak hanya menimpa idol K-Pop. Artis Indonesia pun mengalami praktik serupa yang dikenal sebagai armpit shaming. Dian Sastro Wardoyo, misalnya, saat tampil di catwalk mengenakan gaun jingga yang menuai banyak pujian, justru juga menjadi sasaran unggahan threads dari seorang penggemar yang mempertanyakan tampilan ketiaknya dengan menyertakan tangkapan layar yang diperbesar. Alih-alih menikmati keseluruhan penampilan, tubuh perempuan kembali direduksi pada satu bagian kecil yang dianggap “tidak sempurna”.
Tekanan serupa juga dialami Alexandra Gottardo yang mengaku harus mencukur bulu ketiak demi kebutuhan syuting, meskipun bertentangan dengan keinginannya. Alasannya demi visi artistik produksi agar tidak ada elemen yang dianggap mengganggu visual penonton. Ussy Sulistyawati pun pernah mengunggah foto dirinya sedang tiduran sambil mengangkat lengan, yang berujung pada komentar negatif hanya karena ketiaknya terlihat berbulu.
Fenomena armpit hairless ini menunjukkan bagaimana tubuh perempuan terus diposisikan sebagai objek dan konsumsi publik. Rosalind Gill dalam bukunya Gender and the Media (2007) menjelaskan bahwa media modern secara konsisten mengonstruksi tubuh perempuan melalui representasi visual yang sarat dengan standar kecantikan patriarkal. Konsep male gaze dan objectification menjadi mekanisme utama yang membuat tubuh perempuan terus dipandang, dinilai, dan diatur sesuai selera publik yang dibentuk oleh logika maskulin.
Ketiak tanpa bulu dikonstruksikan sebagai standar kecantikan perempuan. Perempuan yang bersih dari bulu dianggap cantik dan terawat, sementara perempuan yang memiliki bulu dilekatkan pada stigma jorok dan tidak mampu merawat diri. Media tidak sekadar menampilkan tubuh perempuan, tetapi secara aktif menciptakan dan menormalisasi tubuh seperti apa yang dianggap layak dilihat, diterima, dan dipuja.
Bulu Ketiak itu Normal
Pertumbuhan bulu di ketiak itu salah satu tanda pubertas yang sangat normal terjadi sejak umur 8-13 tahun. Dalam penelitian Natarelli, et al (2023) menjelaskan bahwa pertumbuhan bulu terjadi karena perubahan aktivitas hormon sitokin dan berlangsung dalam tiga tahap, yaitu tahap anagen selama beberapa bulan saat sel-sel membentuk batang dan akar, berikutnya tahap katagen atau transisi lalu diakhiri dengan masa telogen dimana bulu mulai beristirahat dan perlahan rontok.
Biasanya bulu yang tumbuh halus, lurus dan tipis namun semakin bertambah usia sang perempuan, teksturnya bisa berubah menjadi kasar dan keriting. Sedangkan untuk panjang atau pendeknya bulu bisa dipengaruhi oleh usia, tahap perkembangan, jenis kelamin, faktor genetik, nutrisi dan perubahan musim. Laju pertumbuhan bulu pun berbeda-beda untuk setiap bagian tubuh, khusus bulu ketiak rata-rata sekitar 0,27 mm/hari atau 1,27 cm/bulan. Namun pertumbuhan umumya berhenti ketika mencapai ukuran 2 cm.
Bulu halus ini tidak tumbuh liar tanpa makna. Ia hadir dengan fungsi biologis yang jelas: mengurangi gesekan antar kulit, membantu regulasi suhu tubuh, serta menjadi lapisan pelindung alami dari bakteri dan zat berbahaya. Namun, di tengah budaya visual yang menuntut tubuh perempuan selalu tampil “bersih” dan “rapi”, keberadaan bulu ketiak justru kerap diposisikan sebagai sesuatu yang salah.
Lantas, apakah membiarkan bulu ketiak adalah sebuah hal yang memalukan? Tentu saja tidak.
Turner, et al (2007) menjelaskan bahwa membiarkan bulu ketiak justru dapat menurunkan risiko iritasi, peradangan, hingga infeksi akibat gesekan atau luka mikro dari proses mencukur. Bulu ketiak juga berperan dalam menjaga aroma alami tubuh serta mengurangi penyerapan bahan kimia berbahaya dari produk antiperspiran dan deodoran ke dalam kulit. Bulu ketiak memiliki fungsi protektif bagi area di sekitarnya, termasuk melindungi organ vital seperti payudara.
Dengan fungsi perlindungan yang jelas bagi tubuh, bulu ketiak tidak seharusnya terus dipersoalkan pada perempuan atau dipaksakan sebagai indikator cantik dan bersih. Yang perlu dikoreksi bukan tubuh perempuan, melainkan standar sosial yang mengontrolnya.
0 comments