Ada satu pertanyaan yang kerap berputar di kepala saya sebagai perempuan pekerja: mengapa ketika perempuan bekerja, pilihannya selalu dianggap tidak sepenting itu, bahkan kerap dipertanyakan, sementara laki-laki bekerja tidak pernah perlu menjelaskan apa pun? Perempuan pekerja hampir selalu hidup dalam kondisi dilematis, diapresiasi sekaligus dihakimi dalam waktu yang sama.
Ketika perempuan bekerja, ia tetap ditanya tentang rumah, anak, pasangan, dan masa depannya. Ketika laki-laki bekerja, hal itu dianggap sebagai kewajiban alamiah. Perempuan diminta membuktikan bahwa ia masih “perempuan baik”, sementara laki-laki tidak pernah dipaksa membuktikan bahwa ia masih “laki-laki baik” meski absen dari urusan domestik.
Padahal ketika perempuan bekerja di luar rumah, mereka juga tetap mengerjakan pekerjaan domestik. Saya merasa, apapun yang dikerjakan perempuan selalu menjadi salah. Selalu peran perempuan di kotak-kotakkan.
Perempuan Bekerja Sebagai Breadwinners
Banyak dari perempuan pekerja bukan hanya untuk aktualisasi diri bahkan ada yang karena tekanan ekonomi dan mengharuskan mereka menjadi female breadwinners.
Fakta sosial menunjukkan bahwa perempuan bisa dan memang menjadi breadwinners. Data BPS dalam judul Female Breadwinners: Fenomena Perempuan sebagai Pencari Nafkah Utama Keluarga (2025) mencatat bahwa sekitar 14,37 persen pekerja di Indonesia adalah pencari nafkah utama keluarga, dan hampir separuhnya menyumbang 90–100 persen pendapatan rumah tangga.
Namun kontribusi ekonomi ini tidak otomatis menghapus stigma. Perempuan breadwinner sering dianggap terlalu dominan, mengancam maskulinitas pasangan, atau “melampaui kodrat”. Alih-alih dihargai, mereka justru dicurigai.
Hal ini juga dialami oleh teman saya, Meriani, seorang working mom. Menurutnya, dorongan untuk bekerja lantaran nafkah yang diberikan suaminya hanya mencukupi kebutuhan anak bayinya, sementara kebutuhan rumah tangga lainnya harus ia tanggung sendiri.
"Uang dari suami hanya cukup untuk kebutuhan bayi kami. Untuk masak, beli bumbu, gas, dan sabun mandi, saya harus cari sendiri atau terpaksa minta ke orangtua saya. Kalau saya minta ke dia (suami), dia malah marah dan keluar kata-kata kasar. Tapi saat saya mulai bekerja, dia justru marah lagi dan bilang perempuan seharusnya di rumah saja mengurus anak," Ucap Meriani.
Pengalaman Meriani memperlihatkan bagaimana perempuan terjebak dalam kontradiksi patriarkal: kebutuhan ekonomi menuntut mereka bekerja, tetapi norma sosial justru menolak kerja perempuan sebagai sesuatu yang sah. Tidak bekerja dianggap bergantung, bekerja dianggap melanggar kodrat.
Perempuan Bekerja Juga Menanggung Beban Domestik
Lebih ironis lagi, meski menjadi tulang punggung ekonomi, perempuan tetap dituntut menjalankan peran domestik secara penuh. Mereka bekerja di luar rumah sekaligus tetap bertanggung jawab atas kerja perawatan. Beban ganda ini jarang dialami laki-laki.
Dalam penelitian Barigozzi et al, (2025), meskipun perempuan bekerja, mereka tetap memikul tanggung jawab utama dalam mengatur pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Beban ini tidak hanya berupa waktu, tetapi juga beban kognitif dan emosional yang terus terbawa hingga ke tempat kerja.
Dalam hal ini menunjukan bahwa keberhasilan perempuan secara ekonomi selalu dianggap sesuatu yang kurang. Perempuan yang memilih bekerja menjadi ibu rumah tangga pun selalu dianggap bukan sesuatu pekerjaan yang penting.
Bahkan ketika perempuan bekerja sekaligus mengurus rumah tangga, hal itu tetap dianggap sebagai kewajiban yang “sudah seharusnya”. Standar ganda ini tidak pernah dilekatkan pada laki-laki, yang tetap dipuji meski hanya berkontribusi di satu ranah.
Rumah tangga selalu dianggap sebagai pekerjaan perempuan sehingga ketika perempuan bekerja ia sering mendapatkan penghakiman. bahkan ketika seorang perempuan mendapatkan perselingkuhan dari pasangannya, seringkali penghakiman terjadi pada perempuan. Pernyataan “kamu sibuk kerja sih makanya ia selingkuh” hampir selalu diarahkan ke perempuan.
Ketika Karier Perempuan Dianggap Mengganggu Tatanan
Perempuan single yang memiliki karier cemerlang tapi belum menemukan pasangannya. Mereka dianggap terlalu rumit, hanya mengejar ambisi dan pemilih. Padahal, perempuan juga berhak punya pemikiran dan aspirasi, bahkan kriteria hidup yang relatif sederhana. Seolah perempuan hanya boleh memiliki profesi tapi jangan sampai melewati garis tak terlihat yang membuat laki-laki insecure.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika seorang perempuan akan menginjak usia 30. Saya pernah mengalaminya. Saat itu banyak orang di sekeliling saya yang mulai melontarkan komentar yang membuat saya tidak nyaman.
Mereka bersikap sebagai peramal kehidupan dengan berbicara yang menurut mereka itu adalah bentuk perhatiannya ke saya. Ocehan seperti, “sayang loh udah umur segitu masih single, jangan sibuk kerja”, “ayo cepat nikah, nanti kalau udah 30 ke atas susah loh jodohnya.”
Saya hanya bisa tersenyum untuk menanggapi. Tapi jauh di hati saya, omongan itu menjadi suatu trauma dan membuat saya menarik diri perlahan dari lingkungan tersebut.
Komentar semacam itu terasa seperti pengingat bahwa kehidupan perempuan pekerja yang belum menikah seperti kehilangan ritme. Ada anggapan di masyarakat bahwa wanita harus mengejar pernikahan seolah-olah itu adalah perlombaan.
Perempuan yang bekerja keras, disebut terlalu ambisius. Perempuan yang vokal terhadap persoalan penting serta pintar, dianggap sok tahu. Perempuan yang mandiri secara finansial dan mempunyai karir sukses dianggap membuat minder laki-laki.
Pada akhirnya, pengalaman perempuan pekerja baik yang menikah, menjadi ibu, lajang, maupun menjadi pencari nafkah utama menunjukkan bahwa persoalannya bukan terletak pada pilihan hidup perempuan, melainkan pada standar sosial yang timpang dan sarat bias gender.
Perempuan dituntut mampu melakukan segalanya, namun tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk diakui. Selama kerja perempuan, tubuh perempuan, dan keputusan hidup perempuan masih terus diawasi dan dinilai dengan ukuran moral yang tidak pernah dibebankan kepada laki-laki, ketidakadilan ini akan terus diproduksi.
0 comments