Menjadi “Yang Lain” Di Fase Kehidupan yang Katanya Paling Bahagia Bagi Perempuan: Refleksi Institusi Perkawinan dan Motherhood yang Berduri

Menikah dan melahirkan sering kali digambarkan sebagai puncak kebahagiaan seorang perempuan. Sebuah impian indah yang dipupuk sejak kecil melalui cerita dan dongeng seorang putri yang bertemu dengan pangeran berkuda. Jalan ceritanya diawali dari menemukan belahan jiwa, kemudian melangkah ke pelaminan, lalu melahirkan buah cinta yang akan melengkapi kebahagiaan.

Tapi, benarkah semua perempuan merasakan kebahagiaan yang sama dalam institusi yang dikatakan kebahagiaan ini? Atau, di dongeng manis itu, tersembunyi luka-luka yang tak terucap? Atau justru, ia hanyalah kedok masyarakat patriarki agar mereka tetap eksis?

Sebuah percakapan di sore hari melalui telepon yang awalnya biasa saja, berubah menjadi ruang reflektif dan intim bagi saya dan Ibu. Dalam tiga puluh menit itu, saya, yang secara biologis terlahir sebagai laki-laki, mendapat sudut pandang baru tentang makna mengemban peran sebagai Istri dan Ibu.

Baca juga: Melampaui Pabrik, Menggugat Kapitalisme: Perlawanan Buruh Garmen Perempuan PT Amos

Kelahiran yang Sunyi

Ibu saya bercerita tentang dua proses kelahiran yang meninggalkan bekas. Pertama, saat kakak saya lahir di sebuah rumah sakit di Kota P, Ibu menghadapi persalinan sesar sendirian. Ayah hanya mengantarnya, lalu menghilang. Tiga hari pasca-operasi, saat jahitan masih terasa perih, barulah Ayah datang. Bukan untuk merawat, tetapi sekadar menjenguk. 

Dan dalam kebingungan, Ibu membawa pulang bayi itu tanpa bantuan. Ibu yang masih lemah, memaksakan diri untuk pulang.

“Waktu mama mau melahirkan kakak, papa ada menemani?” tanya saya.

“Tidak, Nak. Mama hanya diantar. Katanya, sudah ada dokter dan perawat,” jawab Ibu, suaranya datar namun menusuk.

Saat saya akan lahir, perlakuan ayah tak jauh berbeda. Ibu harus pergi seorang diri ke rumah sakit. Bahkan meminta tolong mengangkat baju dan kain untuk dibawa ke RS pun ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Saya pun lahir dan hanya dibungkus kain rumah sakit. 

Saat saya tanya mengapa Ibu tidak memaksa Ayah, jawabannya membuat hati teriris, “Mama takut dia marah-marah di depan banyak orang. Mama sudah tahu sifatnya.”

Menghela napas, saya berusaha melontarkan pertanyaan terberat. Bukan bermaksud untuk mengingat pengalaman traumatis itu, namun saya ingin menggali lubuk hati terdalam Ibu saya. “Sebenarnya, Mama ingin didampingi saat proses persalinan, tidak?

Ibu terdiam sejenak. Lalu, dengan suara bergetar, ia berucap, “Iya, Nak. Melahirkan itu taruhan hidup dan mati. Siapa yang tidak ingin ada yang mendampingi?”

Saya tersentak mendengarnya. Di balik kekuatannya, ternyata tersimpan harapan kecil untuk diperhatikan. Namun, harapan itu dipendam dalam-dalam hanya untuk menghindari konflik yang akan mempermalukan Ayah.

Baca juga: Nonchalant Bukan Sekadar Sikap: Ia Produk Toxic Maskulinitas dalam Relasi

Namun, Luka Itu Tak Berhenti di Ruang Bersalin

Setelah kami lahir, ketidakpedulian itu berlanjut. Yang kami terima setiap harinya adalah ancaman dan kekerasan, bukan kasih sayang. Ayah, yang seorang nelayan, tak segan mengancam Kakak untung dibuang ke laut. Pengalaman itu, begitu membekas dalam ingatan Ibu. Membuatnya, semakin erat memeluk kami dalam tiap keadaan.

Ibu, yang juga seorang guru di salah satu sekolah dasar, sampai rela membawa saya dan kakak ke sekolah. Kami, yang saat itu berusia tiga dan lima, tak henti diasuhnya bahkan saat ia sedang mengajar. Tangannya, tak henti menggoyang ayunan agar saya tertidur lelap. Sementara matanya, mengawasi kakak yang aktif berlarian.

Namun di rumah, penderitaan Ibu kembali datang. Ia harus siap menerima amukan, cacian, atau perlakuan yang tak tertebak dari Ayah. Masakan Ibu yang kami bilang lezat, kadang tak diterima olehnya. Padahal saya tahu, ibu memasak dalam keadaan lelah setelah pulang mengajar.

Meski begitu, hatinya yang seluas samudra tak henti membantu Ayah. Ibu berjualan ikan, berkeliling kampung hingga malam pun tiba. Semua ini dilakukannya tanpa mengeluh sekali pun hingga kami akhirnya memasuki usia sekolah. Namun, saya tahu, penderitaan dalam diam adalah sakit yang tak terkira.

Menjadi Ibu adalah Mahkota Berduri Bagi Seorang Perempuan

Yang ibu saya alami, terlintas di benak saya saat sedang membaca The Second Sex (1949) karya Simone de Beauvoir. Dalam bukunya, de Beauvoir menyoroti bagaimana lembaga perkawinan dan keibuan sering kali menjadikan perempuan sebagai “Yang Lain” (The Other), yaitu objek yang hidup untuk memvalidasi keberadaan orang lain.

Prasangka pertama yang disorot Beauvoir adalah bahwa menjadi ibu sudah cukup untuk memahkotai hidup seorang perempuan. Tapi nyatanya, pengalaman Ibu menunjukkan bahwa mahkota itu terasa seperti duri. Proses yang seharusnya mulia justru diwarnai kesendirian dan kepedihan. Bukan kebahagiaan yang dirasakan, melainkan kekecewaan yang dalam.

“Banyak ibu yang akhirnya tidak bahagia, sakit hati, dan tidak puas,” tulis Beauvoir. Ibu saya adalah bukti nyatanya. Dia tertipu oleh konstruksi sosial yang menggembar-gemborkan “kelimpahan rahmat” atas peran yang mulia. Perjuangan hidup dan matinya tidak diimbangi dengan dukungan dan apresiasi, melainkan pengabaian.

Padahal, bukankah hubungan antara dua insan yang saling mencinta seharusnya tidak membuat kita merasa kesepian? 

Baca juga: Belajar dari Perempuan Dusun Krecek dan Gletuk, Menjaga Adat, Merawat Alam dalam Nyadran Perdamaian 2026

Kekeliruan Memahami Kasih Sayang Alami Ibu

Prasangka kedua yang keliru menurut de Beauvoir adalah anggapan bahwa kasih sayang ibu adalah hal yang “alami”. Ia menulis, “Tidak ada yang ‘alami’ dari kasih sayang seorang ibu.”

Sebab, selama ini, kasih sayang alami ini kerap dimanfaatkan oleh masyarakat patriarki. Mereka, dengan entengnya membebankan tanggung jawab pengasuhan sepenuhnya pada perempuan dan membenarkan ketidakpedulian laki-laki.

Namun, sebagai anak, saya justru mengalami kasih sayang itu sebagai sesuatu yang nyata dan tulus. Ibu saya menyadari bahwa kami, anak-anaknya, tidak bersalah atas kondisi apa pun. 

Kasih sayangnya lahir dari perjuangan, kesadaran, dan empati. Bukan semata-mata dari “naluri alamiah” yang sering digaungkan oleh masyarakat patriarki. Ia bekerja keras, berkontribusi secara ekonomi, mengurus rumah tangga, sekaligus membesarkan anak-anaknya. 

Meski demikian, semua pengorbanan itu tidak serta-merta mengangkat posisinya menjadi “subjek” yang setara. Walaupun sudah menjadi guru, mengerjakan pekerjaan domestik tanpa henti, membantu mencari nafkah, hingga ikut berlayar menangkap ikan ke tengah lautan, Ibu tetap dipandang sebagai sosok yang hina dan bersalah dibandingkan Ayah.

Setiap terjadi masalah keluarga dan harus melibatkan pihak keluarga Ayah, Ibu tetap ditempatkan sebagai sosok liyan, yang eksistensinya bergantung pada pengakuan Ayah. Mereka mengabaikan penderitaan Ibu saya di balik narasi “kurang bersyukur” dan “tidak menurut kepada suami”. Padahal, kerja reproduktif Ibu lah yang terus meregenerasi kehidupan keluarga kami saat itu.

Seperti yang ditulis de Beauvoir, “perempuan selalu kalah dalam satu hal atau lainnya… pembenaran untuk eksistensinya terletak pada kepribadian bebas selain dirinya sendiri.”

Baca juga: Perempuan Tidak Harus Jinak: Mengulas Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan (2020)

Mematahkan Mitos, Merangkai Makna Baru

Saya menceritakan kisah ini, bukan sebagai bentuk propaganda antipernikahan. Ini adalah realitas yang dialami Ibu saya dan mungkin mayoritas perempuan di luar sana, bahwa institusi perkawinan dan keibuan tak semuanya memiliki ujung yang indah.

Kisahnya, mengajarkan saya sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap senyuman seorang ibu, tersimpan pula serpihan hati yang remuk. Di balik pujian “perempuan kuat” dan “super mom”, ada penindasan yang terus dinormalisasi dan kerja perawatan yang tidak dihargai meski mampu meregenerasi kehidupan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti meromantisasi penderitaan. Sudah waktunya kita mempertanyakan narasi yang menempatkan perempuan sebagai sosok liyan dalam hidupnya sendiri. Penderitaan dalam pernikahan dan keibuan bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. 

Sebab, sudah seharusnya hubungan yang setara dibangun bersama dengan rasa hormat, kesetaraan, dan kepedulian yang tulus.

Kisah Ibu saya juga bukan ajakan untuk membenci laki-laki, tetapi untuk membantu kita memahami pengalaman perempuan. Untuk memastikan bahwa mahkota kebahagiaan yang kita impikan, tidak berubah menjadi mahkota duri yang melukai. Karena setiap perempuan berhak menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi yang lain dalam cerita hidup orang lain.

0 comments

Leave a Comment